KELOMPOK
KERJA DAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
A. Kelompok
Kerja
Konsep
Dasar Mengenai Kelompok kerja
Stoner, Freeman, dan Gilbert mendefinisikan kelompok sebagai
kumpulan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi
untuk suatu tujuan tertentu yang dipahami bersama (two or more eople who
interact and influence each other toward a common purpose). Karakteristik
kelompok:
· Merupakan
kumpulan yang beranggotakan lebih dari satu orang, yang berarti adanya
karakteristik yang berbeda dari setiap orang
· Adanya
interaksi di antara kumpulan orang tersebut
· Adanya
tujuan bersama yang ingin dicapai
Berdasarkan
karakteristik ini, jika kita memahami bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang telah
direncanakan oleh organisasi untuk dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan,
maka kelompok kerja dapat didefenisikan sebagai kelompok yang disusun oleh
organisasi dengan tujuan untuk menjalankan berbagai pekerjaan yang terkait
dengan pencapaian tujuan organisasi.
Kelompok kerja perlu disusun terutama jika organisasi atau
perusahaan beranggotakan orang-orang dalam jumlah yang sangat besar, ruang
lingkup kegiatan luas, dan pengelolaan sumber daya yang banyak. untuk
orgsnisasi yang beranggotakan sedikit orang 5-10 orang, barangkali keseluruhan
anggota tersebut merupakan juga satu kelompok kerja, adapun untuk organisasi
yang memiliki ribuan orang anggota, maka kelompok kerja yang disusun
berdasarkan tujuan jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang,
tergantung dari alasan dan tujuan dari kelompok kerja tersebut disusun.[1]
Kelompok
Kerja Formal dan Informal
Secara
teoritis maupun praktik, kelompok kerja dapat dibagi dua, yaitu kelompok kerja
formal dan kelompok kerja informal.
Kelompok
kerja formal
Kelompok
kerja yang dibentuk atau disusun secara resmi oleh manajer dimana kelompokkerja
tersebut diberikan tugas dan pekerjaan yang terkait dengan pencapaian tujuan
organisasi. Kelompok kerja formal dapat berupa formal dapat berupa kelompok
kerja langsung, kepanitiaan, dan kelompok kerja temporal atau khusus. Kelompok kerja langsung merupakan kelompok kerja yang
disusun oleh manajer dan beranggotakan beberapa orang bawahan yang berada
dibagian dimana manajer tersebut ditugaskan. Kelompok kerja langsung biasanya
dibentuk atau terbentuk dengan sendirinya (pada saat departementalisasi
dilakukan) sebagai konsekuensi langsung dari rencana organisasi yang telah dibuat
dan ketika struktur orgaisasi terbentuk. Kegiatan-kegiatan yang biasanya
dilakukan oleh kelompok kerja langsung adalah kegiatan yang
bersifat utama dari sebuah organisasi dan kebanyakan bersifat rutin, artinya
yang selalu dilakukan oleh organisasi tersebut. Kepanitiaan adalah kelompok kerja yang
disusun oleh manajer dan beranggotakan beberapa orang yang bisa berasal dari
bagian yang sama, atau juga dari bagian lain dari organisasi. Kepanitiaan
disusun berdasarkan tugas-tugas tertentu yang tidak rutin, namun disusun
sebagai upaya untuk mencapai tujuan organisasi pula. Kepanitiaan biasanya
dibuat untuk jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kelompok kerja temporal atau khusus adalahh kelompok kerja yang disusun untuk kepentingan-kepentingan
khusus yang bersifat sementara. Diantara contoh dari kelompok kerja seperti
ini, misalnya ketika perusahaan melakukan kerja sama dengan perusahaan lain
dalam sebuah kegiatan, maka perusahaan dapat membentuk kelompok kerja ini, atau
juga untuk suatu kepentingan internal perusahaan dapat juga membentuk kelompok
kerja ini dan lain sebagainya. Sekalipun bersifat khusus, kelompok in tetap
disusun untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi,hanya saja biasanya
dibenuk dari program-program yang bersifat tidak tetap dan sementara.
Kelompok
kerja informal
Kelompok kerja informal adalah kelompok kerja yang disusun atau
tersusun dengan sendirinya ketika beberapa anggota dari organisasi yang
kegiatannya biasanya tidak terkait langsung dengan rencana-rencana rutin dari
organisasi, namun secara tidak langsung akan mempengaruhi kinerja dari
orang-orang dalam organisasi.[2] Contohya adalah kelompok olahraga yang beranggotakan para pegawai
termasuk juga para manajer, kelompok hobi, dan lain-lain. Kelompok informal ini
biasanya terbentuk dan dibentuk untuk memelihara budaya organisasi tertentu yang akan mendukung terpeliharanya kekompakan,
persatuan, dan kinerja dari kelompok kerja formal. Paling tidak ada empat
tujuan mengapa kelompok kerja informal ini dibentuk:
1) Untuk
memelihara dan memperkuat perilaku positif dari para anggota
2) Untuk
menciptakan dan memelihara interaksi sesama anggota, sehingga anggota merasa
nyaman, puas, dan aman.
3) Untuk
membantu para anggota agar dapat saling berkomunikasi dan berinteraksi dalam
bentuk yang informa dan fleksibel
4) Untuk
membantu manajer dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang mungkin dalam
kondisi formal tidak dapat diselesaikan. Kadang kala seseorang lebih dapat
berkomunikasi ketika tengah bermain tenis bersama misalnya.
Karakteristik
Kelompok Kerja.
Bagaimana
agar kita dapat mengelola kelompok kerja dengan efektif? Salah satu kunci
pokoknya adalah dengan mengenali karakteristik dari kelompok kerja tersebut. Di
antara kerakteristik yanag akan dibahas adalah
Tahapan
dalam Pembentukan dan Interaksi tim kerja
Paling tidak, sebagaimana yang dikemukakan oleh B.W. Tuckman yang
dikutip oleh Stoner, Freeman, Gilbert, terdapat 5 tahapan bagaimana sebuah tim
kerja terbentuk dan berinteraksi. Kelima tahapan tersebut adalah:
a) Tahap
Pembentukkan (forming)
Dimana kelompok kerja dibentuk oleh
manajer. Kelompok kerja yang terbentuk akan terdiri dari pemimpin kelompok dan
anggota. Masing-masing anggota dari kelompok kerja akan ditentukan tugas-tugas
yang harus dikerjakan
b) Tahapan
penguatan (storming)
Pada tahapan ini, anggota-anggota yang
telah menerima tugasnya masing-masing mulai berinteraksi satu sama
lainnya.kadang kala karena disebabkan perbedaan karakteristik individu serta
persepsi mengenai pekerjaan mereka masing-masing, termasuk juga pola komunikasi
yang yang dibangun. Pada tahap ini konflik dalam kelompok kerja dapat terjadi.
c) Tahapan
Penyesuaian (norming)
Merupakan tindak lanjut dari tahap kedua.
Ketika kelompok kerja telah saling berinteraksi, hingga barangkali bisa terjadi
konflik, maka tahapan ini merupakan tahapan di mana keseluruhan anggota secara
almiah ataupun dipaksa harus menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan yang
ada dan terjadi. Norma yang diyakini bersama sebagai sesuatu yang harus
dijalankan, kadangkala menjadi titik temu untuk bisa saling menyesuaikan diri
dalam bekerja.
d) Tahapan
Perwujudan (performing)
Di mana hasil dari pekerjaan masing-masing
anggota maupun secara kelompok dapat terwujud dan terlihat. Itu sebabnya
tahapan keempat ini dinamakan performing, di mana setiap anggota akan
memperlihatkan hasil dari setiap pekerjaannya, dan akan dievaluasi sampai
sejauh mana tingkat kesesuaiannya terhadap tujuan dari kelompok kerja.
e) Tahap
Pencarian atau Penilaian (adjourning)
Diman
masing-masing anggota mengalami tahapan akhir dari proses pengerjaan bersama
kelompok kerja. Pada tahapan ini, anggota akan ada yang merasa puas, kecewa,
atau penasaran, tergantung dari tahapan-tahapan sebelumnya. Dapat dikatakan
pula bahwa tahapan ini merupakan tahapan antiklimaks dari seluruh rangkaian
kerja dari kelompokk kerja.
Di dalam kelompok kerja norma sangatlah pernting,mengapa? Hal ini
terkait dengan keragaman karakteristik individu. Keragaman pada dasarnya
memiliki dua potensi, potensi untuk saling mengisi dan berinteraksi secara
positif, atau potensi konflik dan berinteraksi secara negatif. Selain norma,
solidaritas dan integritas dalam kelompok kerja (Cohesiveness) sangat
menentukan sampai sejauh mana kelompok kerja dapat menjalankan fungsinya dalam pencapaian tujuan.[3]
Mewujudkan
Kelompok Kerja Efektif
Sekalipun
manajemen organisasi merupakan proses yang berkelanjutan, sehingga dalam proses
yang dijalankan tersebut sangat mungkin terjadi fluktuasi dalam hal kinerja
yang ditunjukkan para anggota kelompok kerja. Namun ada beberapa panduan yang
dapat digunakan agar kelompok kerja dapat berjalan secara lebih efektif.
Diantaranya adalah:
1. Tujuan
dari pembentukan kelompok kerja hendaknya benar-benar jelas sehingga para anggota
dapat mengenali secara jelas apa yang menjadi tujuan dari kelompok kerja yang
dibentuk serta memperjelas arah yang akan dituju oleh kelompok kerja
2. Peran
serta pembagian kerja dari setiap anggota keolompok kerja perlu juga
diperjelas. Artinya, struktur tugas ataupun pekerjaanya perlu disusun secara
jelas.
3. Jumlah
anggota yang optimal dalam sebuah kelompok kerja perlu ditentukan. Jumlah ini
perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang akan dijalankan. Terlalu banyak
anggota dapat menyebabkan sebagian anggota menganggur, terlalu sedikit juga
akan menyebabkan beban anggota melebihi kemampuannya.
4. Pemimpin
dari kelompok kerja perlu ditentukan atas dasar kapabilitasnya dikelompok kerja
tersebut. Jika memungkinkan, dirinya tidak hanya memiliki kapabilitas sebagai
pemimpin formal, namun juga sebagai pemimpin informal.
5. Seluruh
sumber daya yang diperlukan handaknya tersedia, terdistribusi secara merata
sesuai dengan struktur tugas yang telah ditentukan.
6. Norma-norma
perlu disepakati sebelim pekerjaan dilakukan.
7. Jadwal
kerja perlu tersusun secara spesifik dan disusun bersama seluruh anggota
kelompok kerja agar rasa memiliki dan tanggung jawab dari seluruh anggota kerja
dapat diandalkan.
8. Perludiadakanmomentum-momentum
formal maupun informal untuk lebih memperkuat solidaritas dan integritas sesama
anggota.
9. Fokuskan
setiap kejadian pada kinerja kelompok kerja, bukan pada personality dari para
anggota. Mengevaluasi atas apa yang telah dikerjakan oleh anggota sangat perlu
begitu juga evaluasi pekerjaan. Manajer harus bisa membedakan antara
mengevaluasi pekerjaan dan mengevaluasi anggota.
Sekalipun
dalam praktiknya panduan-panduan di atas tidak secara otomatis dijalankan,
namun setidaknya beberapa hal penting yang terkait dengan kelompok kerja agar
berjalan efektif untuk perlu dikenali.
Konflik Dalam Kelompok
Kerja
Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat
dihindarkan dalam kehidupan. Bahkan sepanjang kehidupan, manusia senantiasa
dihadapkan dan bergelut dengan konflik. Demikian halnya dengan kehidupan
organisasi. Anggota organisasi senantiasa dihadapkan pada konflik. Perubahan
atau inovasi baru sangat rentan menimbulkan konflik (destruktif), apalagi jika
tidak disertai pemahaman yang memadai terhadap ide-ide yang berkembag Manajemen konflik sangatberpengaruhbagianggotaorganisasi.
Perbedaan karakteristik individu bisa mendorong terjadinya konflik atau potensi negatif dalam organisasi. Namun, pembahasan mengenai konflik tersebut belum dillakukan, sehingga bagian ini akan menguraikan secara khusus mengenai konflik tersebut. Konflik adalah adanya kesenjangan atau ketidaksesuaian diantara beberapa pihak dalam suatu orgnisasi dengan organisasi lain, diantara berbagai bidang dalam sebuah organisasi, maupun diantara anggota di dalam suatu bagian tertentu dalam organisasi. Secara garis besar konflik dalam suatu organisasi dapat terjadi dalam berbagai keadaan, diantaranya:
Perbedaan karakteristik individu bisa mendorong terjadinya konflik atau potensi negatif dalam organisasi. Namun, pembahasan mengenai konflik tersebut belum dillakukan, sehingga bagian ini akan menguraikan secara khusus mengenai konflik tersebut. Konflik adalah adanya kesenjangan atau ketidaksesuaian diantara beberapa pihak dalam suatu orgnisasi dengan organisasi lain, diantara berbagai bidang dalam sebuah organisasi, maupun diantara anggota di dalam suatu bagian tertentu dalam organisasi. Secara garis besar konflik dalam suatu organisasi dapat terjadi dalam berbagai keadaan, diantaranya:
v Konflik
antarbawahan dibagian yang sama.
v Konflik
antara bawahan dan pimpinan dibagian yang sama.
v Konflik
antarbawahan dari bagian yang berbeda.
v Konflik
antara pimpinan dan bawahan dari bagian yang berbeda.
v Konflik
antarpimpinan dari bagian yang berbeda.
v Dan lain sebagainya.
Konflik
pada dasarnya merupakan sesuatu hal yang alamiah dan dapat diperkirakan terjadi
ketika sebuah lingkungan atau orgnaisasi terdiri dari berbagai karakteristik
individu. Beberapa dampak konflik terhadaporganisasi, antara lain:
v Konflik
dapat menyebabkan kelompok kerja lemah dan berbagai pekerjaan dalam organisasi
atau perusahaan akan terbengkalai.
v Konflik
bisa menjurus pada persoalan personal antarindividu dalam organisasi. Jika
konflik sudah mengarah pada persoalan personal, agak sulit bagi perusahaaan
untuk bersikap profesional dan membedakan antara urusan yang bersifat
organisasional dan personal, namun yang jelas kinerja organisasi akan
terganggu.
v Konflik
memiliki dampak fositif ketika manajer atau pemimpin dapat mengelola konflik
menjadi persaingan sehat antar individu, sehingga kinerja organisasi justru
mungkin dapat ditingkatkan. Namun, prasyarat agar konflik menjadi dampak
fositif adalah kuatnya peran pimpinan dan manajer dalam organisasi.
v Konflik
menyebabkan berbagai hal yang tidak terkait langsung dengan tujuan organisasi
muncul, sehingga sangat mungkin untuk terjadinya pemborosan waktu, uang, serta
berbagai sumber daya lainnya.
Sumber Konflik
Konflik yang terjadi biasanya disebabkan
oleh beberapa faktor, diantara nya:
FAKTOR KOMUNIKASI. Faktor komunikasi dapat
jadi penyebab konflik ketika para anggota sebuah organisasi maupun antar
organisasi tidak dapat atau tidak mau untuk saling mengerti dan saling memahami
dalam berbagai hal dalam organisasi.
FAKTOR STRUKTUR TUGAS DAN STRUKTUR ORGANISASI. Struktur tugas
dapat menyebabkan konflik ketika sebagian anggota tidak bisa memahami pekerjaan
mereka dari struktur tugas yang ada, atau juga terjadi ketidaksesuaian dalam
hal pembagian kerja, maupun prosedur kerja yang tidak dipahami. Struktur
organisasi dapat menyebabkan konflik ketika sebagian anggota merasa tidak cocok
untuk berada di suatu bagian dalam organisasi, atau juga bisa berupa adanya
upaya untuk meraih satu posisi tertentu, maupun berbagai hal lainnya yang
terkait dengan posisi atau bagian yang ada dalam organisasi.
FAKTOR PERSONAL. Faktor personal dapat menjadi sumber konflik
dalam organisasi ketika individu-individu dalam organisasi tidak dapat saling
memahami satu sama lain, sehingga terjadi berbagai persoalan yang dapat
mendorong terciptanya konflik antar individu, baik di dalam satu bagian
tertentu maupun antar bagian tertentu dalam organosasi.
FAKTOR LINGKUNGAN. Faktor lingkungan dapat menjadi sumber konflik
ketika lingkungan dimana setiap individu bekerja tidak mendukung terwujudnya
suasana kerja yang kondisif bagi efektivitas pekerjaan yang dilakukan oleh
setiap orang maupun setiap kelompok kerja. Lingkungan yang kurang ventilas,
panas, hingga penataan antar bagian yang tidak sesuai dengan keinginan para
pekerja dapat menjadi contoh faktor lingkungan yang bisa memicu terjadinya
konflik.
Stimulasi
Konflik
Stimulasi konflik pada
dasarnya adalah upaya dilakukan oleh manajer terhadap konflik yang terjadi
dengan jalan memberikan umpan-umpan stimulan yang menyebabkan pihak-pihak yang
terlibat konflik mengarahkan konfliknya kepada sesuatu yang bersifat positif
bagi dirinya dan organisasi. Di antara program yang dapat dijalankan adalah
memosisikan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik kedalam suatu situasi
dimana mereka terlibat dalam sebuah persaingan positif yang akan meningkatkan
kinerja mereka sekaligus juga organisasi. Memasukkan faktor persaingan ini
dapat dilakukan dengan tawaran kompensasi tertentu sehingga pihak-pihak yang
terlibat dalam konflik akan benar-benar melakukan persaingan antar mereka.
Tawaran kompensasi tersebut dapat berupa pemberian bonus, insentif, dan bentuk
kompensasi lainnya. Selain memperkenalkan persaingan kedalam pihak-pihak yang
terlibat konflik, stimulasi konflik dapat juga dilakukan dengan jalan
memasukkan pihak ketiga diantara pihak-pihakyang terlibat konflik agar konflik
tersebut dapat diminimalkan dengan kehadiran pihak ketiga tersebut. Bentuk
stimulasi lain yang juga bisa dilakukan adalah dengan melakukan perubahan pada
aturan main atau prosedur yang selama ini berlaku dalam organisasi. Dengan
adanya perubahan prosedur atau aturan main tersebut diharapkan pihak-pihak yang
terlibat dalam konflik dapat melakukan penyusaian ulang mengenai posisi mereka
dalam organisasi sehingga konflik dengan sendirinya akan tersesuaikan pula.
Pengendalian
Konflik
Selain memberikan stimulasi kepada pihak-pihak
yang terlibat konflik, pendekatan lain yang bisa digunakan adalah pengendalian
konflik. Pengendalian konflik ini dilakukan untuk memastikan bahwa konflik
dapat senantiasa dihindari dan kalaupun terjadi dengan segera bisa disesuaikan kembali. Diantara program yang bisa dilakukan
adalah malalui perluasan penggunaan sumberdaya organisasi. Konflik yang
disebabkan oleh adanya masalah dalam penggunaan suber daya (sebagaimana
diterangkan dalam “sumber konflik” diatas), katakanlah dari sisi fasilitas yang
dirasakan dan digunakan oleh anggota organisasi, diharapkan bisa diselesaikan
melalui program perluasan penggunaan sumber daya organisasi tersebut. Selain
itu pula, diantara upaya atau program yang dapat dilakukan, adalah dengan
meningkatkan koordinisasi antar bagian dalam organisasi. Hal ini akan
menyebabkan konflik yang terutama
disebabkan oleh kurangnya koordinisasi atau kejelasan struktur pekerjaan
misalnya, dapat diselesaikan dengan baik melalui koordinasi yang intensif.
Banyak konflik terjadi bukan disebabkan orang-orang yang ada dalam organisasi
tidak andal, melainkan karena kurangnya koordinisasi. Selain peningkatan
koordinasasi, bisa pula dilakukan pendekatan melalui upaya pncarian titik temu
antar pihak yang terlibat dalam konflik unutk menyusun tujuan bersama yang
ingin dicapai dalam organisasi, sehingga berbagai pihak yang terlibat dalam
konflik dapat kembali di ingatkan akan tujuan utama dari organisasi. Konflik
dapat pula dikendalikan melaui penyusaian perilaku para pekerja dengan apa yang
semestinya dijalankan diperusahaan melalui ketentuan-ketentuan yang
diberlakukan. Sebagian konflik terjadi karena orang-orang tersebut tidak
berperilaku sebagaimana mestinya dalam sebuah organisasi.
Penyelesaian
dan Penghilangan Konflik
Dua pendekatan diatas merupakan sebagian
upaya untuk menjadikan konflik sesuatu yang dapat diterima secara alamiah,
namun tetap harus diwaspadai agar konflik yang terjadi dapat diarahkan kepada
pencapai kinerja organisasi yang lebih baik. Pada kenyataannya konflik
sekalipun telah diusahakan untuk terjadi, namun selalu saja dapat terjadi.
Untuk kasus seperti ini, maka konflik harus dihadapi dan diseesaikan. Diantara
program yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan dan menghilangkan konflik,
yaitu dengan melalui penghindaran konflik. Jika kita mengetahui bahwa terdapat
dua orang yang kalau dipertemukan akan terjdi konflik, maka salah satu upaya
penghindarannya adalah dengan memisahkan mereka dari bagian kerja yang sama,
atau jika berada dalam bagian yang sama mungkin dengan jalan membagi
waktu kerja yang berbeda, dan seterusnya. Selain itu pula, yang bisa
dilakukan untuk menyelesaikan konflik adalh mempertemukan pihak-pihak yang
bertikai untuk kemudian meminta mereka untuk menyelesaiakan konflik mereka
dihadapan pihak ketiga atau antar mereka sendiri dengan desakan terhadap mereka
untuk melakukan kompromi.[4]
B. Komunikasi
dalam Organisasi
Komunikasi
dapat didefenisikan sebagai memberi atau tukar informasi, isyarat, atau pesan
melalui kata, gerakan badan atau tulisan. Defenisi ini menandakan bahwa
komunikasi sebagai sebagai satu proses sepihak. Tapi sebenarnya tidaklah
begitu, komunikasi bukan hanya sekedar menyampaikan pesan. Ini menyangkut
interaksi antara dua insan atau lebih . agar komunikasi menjadi efektif, kedua
pihak harus terus menerus memberi dan menerima informasi baik lisan maupun
tertulis.[5]
Suatu
keterampilan utama yang diharapkan dari seorang manajer ialah kemampuan untuk
berkomunikasi secara efektif. Keterampilan untuk memberlakukan kebijaksanaan,
mengupayakan supaya instruksi-instruksinya dapat dipahami denga jelas dan
menyempurnakan pelaksanaan kerja tergantung dari komunikasi yang efektif.
Manajer yang tidak dapat berkomunikasi dengan bawahannya tentang
pekerjaan-pekerjaan yang perlu dilaksanakan tidak akan berhasil menyuruh bawahannya
mengerjakannya. Sebaliknya, apabila bawahan tidak dapat berkomunikasi secara
bebas dengan manajernya, maka informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan
pekerjaan secara sukses itu tidak akan ada.
Komunikasi
merupakan cara untuk memudahkan manajemen, akan tetapi bukan merupakan kegiatan
yang berdiri sendiri dan menjadi bagian yang pokok dari segala sesuatu yang
dikerjakan oleh manajer. Ada yang mengatakan bahwa dua pertiga waktu manajer
terpakai untuk berkomunikasi. memberikan informasi penuh kepada rekan-rekan
kerjanya dan mendapatkan saling pengertian merupakan hal-hal yang penting
sekali, sehingga ada beberapa pihak yang menarik kesimpulan bahwa manajemen
adalah berkomunikasi. Akan tetapi sesungguhnya berkomunikasi hanya merupakan
bagian dari manajemen.
Berkomunikasi
mengandung artiyang lebih luas dari pada sekedar mengatakan atau menuliskan
sesuatu. Didalamnya juga tercakup suatu pengertian. Tidak akan ada komunikasi
apabila anda tidak dapat dimengerti dan kekurangan tersebut merupakan
penghalang utama dalam berkomunikasi.
Kondisi-kondisi
yang dapat membantu komunikasi menjadi efektif: mengetahui sepenuhnya hal-hal
yang ingin dikomunikasikan, berkomunikasi secukupnya, menyadari bahwa
komunikasi dapat dirubah distribusinya, gunakan simbol-simbol atau alat visual
yang memadai, dan hati-hati dalam memilih informasi yang dikomunikasikan.[6]
Tantangan
terbesar dalam berkomunikasi adalah mengerti pikiran, latar belakang dan proses
berpikir pendengar anda. Bila anda tahu ini, anda dapat mencegah “gangguan
komunikasi”. Sukses tidak dapat dicapai tanpa hubungan dengan orang lain. Namun
benar juga bahwa bagaimana dan seberapa jauh dan dalamnya hubungan tersebut ditentukan
oleh komunukasi.
Fungsi
komunikasi antara lain: Alat kontrol perilaku anggota dalam sebuah organisasi
dalam berbagai cara, motivasi kerja kru juga dapat ditingkatkan melalui
komunikasi, berperan sebagai media untuk mengungkapkan ekspresi emosional perasaan
dan pemenuhan kebutuhan sosial, dan komunikasi memfasilitasi pengambilan
keputusan.[7]
Pola
Komunikasi Dalam Struktur Organisasi
Pola komunikasi dalam
struktur organisasi secara garis besar dapat berupa komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal. Komunikasi vertikal adalah
komunikasi yang dilakukan oleh seseorang atau bagian yang berada pada tingkatan
organisasi yang lebih tinggi dengan tingkatan yang lebih rendah atau juga
sebaliknya. Komunikasi vertikal biasanya dilakukan dalam hal komunikasi berupa
pemberian tugas (dari atas ke bawah), pemberian arahan (atas ke bawah), maupun
pelaporan dan pertanggung jawaban (dari bawah ke atas). Adapun komunikasi
horizontal biasanya dilakukan antara seseorang dengan orang lain yang memiliki
tingkatan organisasi yang sama. Bentukkomunikasi yang dilakukan diantaranya
adalah komunikasi dalam rangka koordinasi, kerja sama, dan lain sebagainya.
Konflik
dan Komunikasi dalam Organisasi
Terjadinya konflik di dalam organisasi
dapat diidentifikasi bahwa salah satu penyebab nya adalah faktor komunikasi.
Komunikasi yang tidak tepat atau yang salah akan menyebakan akan terjadinya
salah komunikasi atau salah persepsi atau sering dinamakan sebagai miscomunication, yaitu ketika komunikasi yang
dilakukan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ingin dikomunikasikan. Disisi
yang lain, beberapa pendekatan dalam manajemen konflik juga telah menjelaskan bahwa
konflik bisa di selesaikan melalui stimulasi, pengendalian bahkan hingga
penyelesaian konflik. Namun jika kita perhatikan secara seksama, ketiga
pendekatan tersebut tidak dapat dijalankan secara efektif jika tidak
dikomunikasikan dengan jelas,baik,dan tepat.
Faktor komunikasi berperan penting dalam penyelesaian konflik, dan
berperan penting juga dalam organisasi, oleh karena nya komunikasi memiliki
peran yang penting dalam organisasi.